BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 19 Mei 2011

Translasi Mata Uang Asing di Negara Lain

Kanada
Institut akuntan bersertifikat di Kanada (CICA), Badan Standar Akuntansi di Inggris dan Badan Standar Akuntansi International seluruhnya berpartisipasi dalam penyusunan FAS No. 52. Perbedaan utama antara standar di kanada (CICA 1650) dan FAS No. 52 menyangkut utang jangka panjang dalam mata uang asing. Di Kanada keuntungan dan kerugian translasi ditangguhkan dan diamortisasi.

Inggris
Perbedaan utama standar di Inggris dan di AS berkaitan dengan anak perusahaan yang berdiri sendiri di negara–negara yang mengalami hiperinflasi. Laporan keuangan pertama-tama harus disesuaikan terhadap tingkat harga kini dan kemudian ditranslasikan dengan menggunakan kurs kini.

Australia
Australia mengharuskan penilaian kembali aktiva tidak lancar non moneter untuk anak perusahaan di negara-negara yang berinflasi tinggi sebelum dilakukan translasi.

Selandia Baru
Pada dasarnya sama dengan Australia, Selandia Baru juga mengharuskan metode translasi moneter–non moneter untuk anak perusahaan yang operasinya terintegrasi induk perusahaannya

Jepang
Pada saat ini Jepang telah mengubah standarnya dengan mengharuskan metode kurs kini disegala keadaan dengan penyesuain translasi yang disajikan pada neraca dalam ekuitas pemegang saham.
Jumlah perusahaan melakukan pencatatan saham secara internasional dan mengikuti IAS, atau sekarang disebut IFRS, semakin meningkat dan bursa efek di seluruh dunia berada di bawah tekanan yang semakin meningkat untuk menggunakan IFRS sebagai pengganti standar domestik untuk pencatatan saham perusahaan-perusahaan asing. Di AS perusahan-perusahaan asing diperbolehkan untuk menggunakan standar internasional (IAS 21) dan bukan standar AS (FAS No.52) dalam masalah translasi mata uang asing.

Sumber : http://mlovcup-lillahmlov.blogspot.com/2011/03/tgs-bab-vii-translasi-mata-uang-asing.html

Translasi Mata Uang Asing dan Inflasi

Penggunaan kurs kini untuk mentranslasikan biaya perolehan aktiva nonmoneter yang belokasi di lingkungan berinflasi pada akhirnya akan menimbulkan nilai ekuivalen dalam mata ung domestic yang jauh lebih rendah daripada saat pengukuran awalnya.

FASB menolak penyesuaian inflasi sebelum proses translasi, karena yakin bahwa penyesuaian tersebut tidak konsisten dengan kerangka dasar penilaian biaya historis yang digunakan dalam laporan keuangan dasar di AS. Sebagai solusi, FAS No. 52 mewajibkan penggunaan dolar AS sebagai mata uang funsional untuk operasi luar negeri yang berdomisili di lingkungan dengan hiperinflasi.

Metode ini, memiliki keterbatasan. Pertama, translasi berdasarkan kurs historis akan bermakna hanya jika perbedaan tingkat inflasi antar negara tuan rumah anak perusahaan dan negara induk perusahaan berhubungan negative sempurna dengan kurs nilai tukar. Jika tidak, nilai ekuivalen dolar aktiva dalam mata uang asing, dalam lingkungan berinflasi akan menyesatkan. Jika tingkat inflasi di perekonomian negara hiperinflasi turun dibawah 100 persen selama periode 3 tahun di masa mendatang, perubahan didalam metode kurs kini akan menimbulkan penyesuian translasi yang signifikan terhadap ekuitas konsolidasi, karena kurs nilai tukar dapat berubah secara signifikan selama masa sementara tersebut.

Berdasarkan keadaan ini, pembebanan kerugian translasi atas aktiva tetap dalam mata uang asing terhadap ekuitas pemegang saham akan menimbulkan pengaruh yang signifikan terhadap rasio keuangan yang memiliki penyebut berupa ekuitas pemegang saham. Masalah translasi mata uang asing tidak dapat dipisahkan dari masalah akuntansi untuk inflasi asing.

Sumber : Buku Akuntansi Internasional Federick D. S. Choi, Gary K. Meek

Perkembangan Akuntansi Translasi

Praktik akuntansi translasi telah berkembang dari waktu ke waktu sebagi jawaban atas kompleksitas operasi multinasional yang meningkat dan perubahan sistem moneter internasional. Untuk memberikan beberapa sudut pandang sejarah terhadap status akuntansi translasi yang ada sekarang, berikut ini narasi singkat mengenai inisiatif pelaporan keuangan di Amerika Serikat yang mewakili pengalaman di negara-negara lain.

Sebelum 1965

Sebelum tahun 1965, praktik translasi kebanyakan perusahaan AS dipandu oleh Accounting Research Bulletin No.4 (ARB No.4), yang kemudian diterbitkan kembali sebagai Bab 12 dalam ARB No. 43. Pernyataan ini mendorong penggunaan metode kini-nonkini. Keuntungan atau kerugian translasi langsung dimasukan ke dalam laba. Keuntungan atau kerugian bersih disalinghapuskan selama periode berjalan, sedangkan keuntungan translasi bersih ditangguhkan dalam akun penundaan neraca dan digunakan untuk menghapuskan kerugian translasi pada masa mendatang.

1965-1975

Bab 12 ARB No 43 memperbolehkan pengecualian tertentu atas metode kini-nonkini. Dalam keadaan tertentu, persediaan dapat ditranslasikan berdasarkan kurs historis. Utang jangka panjang yang timbul karena pembelian aktiva jangka panjang dapat ditranslasika berdasarkan kurs kini apabila terjadi perubahan kurs nilai tukar yang besar. Setiap perbedaan akuntansi yang disebabkan oleh penyajian ulang utang diperlakukan sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva. Mentranslasikan seluruh utang dan piutang dalam mata uang asing berdasarkan kurs kini dipernolehkan setelah Accounting Principle Board Opinion No.6 dikeluarkan pada tahun 1965. Perubahan terhadap ARB No.43 ini memberikan pilihan translasi yang lain bagi perusahaan.

1975-1981

Untuk mengakhiri keanekaragaman perlakuan yang diperbolehkan menurut standar translasi sebelumnya, FASB mengeluarkan FAS No.8 yang kontroversial pada tahun 1975. Pernyataan ini secara signifikan mengubah praktik di AS dan praktik sejumlah perusahaan asing yang menggunakan GAAP AS karena mengharuskan penggunaan metode translasi temporal. Isi yang sama pentingnya juga adalah penangguhan keuntungan dan kerugian translasi tidak diperbolehkan lagi. Keuntungan dan kerugian translasi dan transaksi mata uang harus diakui dalam laba selama periode perubahan kus nilai tukar.

Reaksi perusahaan terhadap FAS 8 beraneka ragam. Beberapa pihak pendukung pasar teori yang digunakan, sedangkan banyak yang lain mengecam karena distori yang dapat ditimbulkan dalam laba perusahaan yang dilaporkan. FAS No.8 dikritik karena menyebabkan hasil akuntansi yang tidak sesuai dengan kenyataan ekonomi. Pengaruh yo-yo FAS No.8 terhadap laba perusahaan juga menimbulakn perhatian dikalangan eksekutif sejumlah perusahaan multinasional. Mereka mengkhawatirkan laba perusahaan yang dilaporkan akan terlihat lebih fluktuatif bila dibandingkan dengan laba perusahaan domestik dan demikian akan menekan harga saham peusahaan.

1981-Sekarang

Pada bulan mei 1978, FASB mengundang komentar public terhadap 12 penyataan pertama yang dikeluarkannya. Kebanyakan dari 200 surat yang diterima menyinggung FAS No.8, yang mendorong agar FAS No.8 tersebut diubah. Menanggapi ketidakpastian public tersebut, FASB mempertimbangkan kembali FAS No.8 dan setelah melalui banyak pertemuan publik dan dua draf sementara, menerbitkan Statement Of Financial Accounting Standards No.52 pada tahun 1981.

Sumber : Buku Akuntansi Internasional Federick D. S. Choi, Gary K. Meek

Translasi Mata Uang Asing

Metode translasi ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis metode yang menggunakan kurs translasi tunggal untuk menyajikan ulang saldo dalam mata uang asing ke dalam nilai ekuivalen dalam mata uang domestik dan metode yang menggunakan berbagai macam kurs.

Metode Kurs Tunggal

Metode kurs tunggal menerapkan satu kurs nilai tukar yaitu kurs terkini atau kurs penutupan, untuk seluruh aktiva dan kewajiban lancar. Pendapatan dan beban dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan dengan menggunakan kurs nilai tukar yang berlaku pada saat pos-pos tersebut diakui. Untuk menggunakan pos-pos ini umunya ditranslasikan dengan menggunakan rata-rata tertimbang kurs nilai tukar yang tepat untuk periode tersebut. Berdasarkan metode ini, laporan keuangan sebuah operasi asing memiliki domisili pelaporannya sendiri : lingkungan mata uang local dimana perusahaan afiliasi asing melakukan usahanya.

Berdasarkan metode kurs kini, pelaporan konsolidasi tetap mempertahankan hubungan laporan keuangan perusahaan secara individu pada awalnya pada saat seluruh pos-pos laporan keuangan dalam mata uang asing ditranslasikan dengan menggunakan kurs tunggal. Metode kurs kini, mengasumsikan bahwa seluruh aktiva dalam mata uang local menghadapi risiko nilai tukar karena kurs nilai tukar mengubah nilai seluruh aktiva kiniluar negri dalam ekuivalen mata uang induk perusahaan setiap kali terjadi perusahaan nilai tukar. Hal ini jarang sekali sesuai dengan kenyaan ekonomi, karena persediaan dan aktiva tetap umumnya didukung oleh inflasi lokal.

Metode Kurs Berganda

Metode ini menggabungkan kurs nilai tukar historis dengan dan kurs nilai tukar kini dalam proses translasi.

Metode Kini – Nonkini

Bersadarkan metode ini, aktiva lancar dan kewajiban lancar anak perusahaan luar negri ditranslasikan ke dalam mata uang pelaporan induk perusahaannya berdasarkan kurs kini. Aktiva dan kewajiban tidak lancar ditranslasikan berdasarkan kurs historis. Pos-pos laporan laba rugi ditranslasikan berdasarkan rata-rata tertimbang selama keseluruhan periode pelaporan. Beban depresiasi dan amortisasi ditranslasikan sebesar kurs historis yang tercatat saat aktiva tersebut diperoleh.

Metode ini tidak mempertimbangkan unsure ekonomis. Menggunakan kurs akhir tahunan untuk mentranslasikan aktiva lancar secara tidak langsung menunjukan bahwa kas, piutang, dan persediaan dalam mata uang asing sama-sama menghadapi risiko nilai tukar.

Metode Moneter – Nonmoneter

Metode ini juga menggunakan skema klasifikasi neracauntuk menentukan kurs translasi yang tepat. Aktiva dan kewajiban moneter ditranslasikan berdasarkan kurs kini. Metode ini melihat bahwa aktiva dan kewajiban menghadapi risiko mata uang asing. Metode ini bergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan kurs translasi yang tepat. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang kurang tepat.

Metode ini juga mendistrosikan margin laba karena menandingkan penjualan berdasarkan harga dan kurs translasi kini dengan biaya penjualan yang diukur sebesar biaya perolehan dan kurs translasi historis.

Metode Temporal

Dengan menggunakan metode ini, translasi mata uang merupakan proses konversi pengukuran atau penyajian ulang nilai tertentu. Metodr ini tidak mengubah atribut suatu pos yang diukur malainkan hanya mengubah unit pengukuran. Berdasarkan metode ini, pos-pos moneter seperti kas, piutang dan utang ditranslasikan berdasarkan kurs kini. Pos-pos nonmoneter ditranslasikan dengan kurs yang mempertahankan dasar pengukuran pada awalnya. Secara khusus aktiva yang dinilai dalam laporan mata uang asing sebesar biaya historis ditranslasikan berdasarkan kurs historis. Metode ini dirancang untuk mempertahankan dasar teori pengukuran akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan yang hendak ditranslasikan.

Sumber : Buku Akuntansi Internasional Frederick D. S. Choli, Gery K. Meek

Transaksi Mata Uang Asing

Ciri utama yang istimewa dari sebuah transaksi mata uang asing adalah penyelesaiannya dipengaruhi dipengaruhi dalam suatu mata uang asing. Jadi, transaksi dalam mata uang asing terjadi pada saat suatu perusahaan membeli atau menjual barang dengan pembayaran yang dilakukan dalam suatu mata uang asing atau ketika perusahaan meminjam atau meminjamkan dalam mata uang asing.

Suatu transaksi mata uang asing dapat berdenomisasi dalam satu mata uang, tetapi diukur atau dicatat dalammata uang yang lain. Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, pertimbangkanlah pertama-tama istilah mata uang fungsional. Mata uang fungsional sebuah perusahaan diartikan sebagai mata uang lingkungan ekonomi yang utama dimana perusahaan beroperasi dan menghasilkan arus kas. Jika suatu operasi anak perusahaan luar negeri relative berdiri sendiri dan terintegrasi dalam negara asing, umumnya akan menghasilkan dan mengeluarkan uang dalam mata uang local. Dengan demikian mata uang local adalah mata uang fungsional. Jika suatu perusahaan asing mempertahankan akun-akunnya dalam mata uang selain mata uang fungsional, mata uang fungsional adalah mata uang pihak ketiga.

FAS No. 52, pernyataan standar akuntansi untuk mata uang asing yang wajib diterapkan di AS, mengharuskan perlakuan berikut ini untuk transaksi mata uang asing :

1.Pada tanggal suatu transaksi diakui, setiap aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian yang terjadi dari suatu transaksi harus diukur dan dicatat dalam mata uang fungsional perusahaan yang melakukan pencatatan dengan menggunakan kurs nilai tukar yang berlaku pada tanggal tersebut.

2.Pada setiap tanggal neraca, saldo-saldo tercatat yang berdenominasi dalam suatu mata uang selain mata uang fungsional perusahaan yang melakukan pencatatan harus disesuaikan untuk mencerminkan kurs nilai tukar terkini.

Berdasarkan hal ini, penyesuaian kurs nilai tukar valuta asing perlu dibuat pada saat terjadi perubahan kurs nilai tukar diantara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian. Apabila laporan keuangan disusun sebelum penyelesaian transaksi, penyesuaian akuntansi akan sama dengan perbedaan antara jumlah yang awalnya dicatat dan jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan.

FASB menolak pandangan yang menyatakan bahwa pembedaan perlu dibuat anatara keuntungan dan kerugian dari transaksi yang sudah diselesaikan dan yang belum diselesaikan, karena pembedaan seperti itu tidak dapat diterapkan dalam praktik. Terdapat 2 perlakuan akuntansi atas keuntungan dan kerugian transaksi yang dapat diterapkan.

Perspektif Transaksi Tunggal

Berdasarkan perspektif transaksi tunggal, penyesuaian nilai tukar diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap akun-akun transaksi yang awal berdasarkan premis bahwa suatu transaksi dan penyelesaiannya merupakan satu peristiwa tunggal.

Perspektif Dua Transaksi

Berdasarkan perspektif dua transaksi, penagihan piutang dalam krona dianggap sebagai peristiwa terpisah dari penjualan yang menyebabkan timbulnya piutang tersebut.

Sumber : Buku Akuntansi Internasional Frederick D. S. Choli, Gery K. Meek